Jumat, 21 Desember 2007

Jembatan Porong Diperkirakan 'Ambles' Enam Bulan Lagi

SURABAYA--MEDIA: Ketua Tim Geomatika ITS Surabaya Prof Ing Ir Teguh Hariyanto MSc mengatakan Jembatan Porong tinggal enam bulan lagi akan 'ambles' (menurun) akibat land subsidance (penurunan tanah) yang

disebabkan beban lumpur sejak 29 Mei 2006.

"Tapi, kami belum tahu land subsidance yang besar akan terjadi kapan, karena kami masih melakukan penelitian, namun indikasi-nya sudah terjadi,"

katanya usai berbicara dalam simposium nasional tentang penanganan lumpur di rektorat ITS Surabaya, Rabu (19/12).

Dalam simposium yang batal dihadiri Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto (Ketua Dewan Pengarah BPLS), Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, dan Menneg LH Rachmad Witoelar itu, ia mengatakan land subsidance yang besar akan terjadi tak lama lagi.

"Karena itu, kemungkinan itu patut diwaspadai mulai enam bulan hingga satu tahun ke depan, sebab indikasi gerakan land subsidance ke arah pusat

semburan (luapan) sudah terjadi," katanya.

Bahkan, katanya, kondisi di lapangan saat ini sudah menunjukkan adanya penurunan di batas antara jembatan utama dengan penggal Jalan Raya Porong Sidoarjo yang dirasakan oleh kereta api.

"Jembatan dan rel kereta api sudah mulai tertarik akibat penurunan itu, tapi prosesnya memang berlangsung lama, karena itu land subsidance itu harus diamati atau diteliti dari minggu ke minggu," katanya. Bila terjadi 'gerakan' yang besar akan diinformasikan kepada masyarakat, karena land subsidance memang tidak akan merusak infrastruktur bila ada perkuatan atau vitalisasi dari infrastruktur yang ada.

Dalam kaitan itu, kata ahli permukaan tanah (geomatika) ITS itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan PU, mana yang perlu dibongkar dan mana yang perlu diperkuat. "Sejauh ini, langkah yang dapat dilakukan untuk antisipasi adalah memperkecil dampak kerusakan untuk jalur lalu lintas, terutama angkutan berat yang harus 'memutar' lewat Mojokerto," katanya.

Secara identik, katanya, Jembatan Porong dengan Jembatan Tol Siring yang saat ini sudah buntung hampir sama jaraknya dengan pusat semburan. "Hanya saja konstruksi Jembatan Porong jauh lebih stabil jika dibandingkan kondisi jembatan tol," katanya.

Menurut Rektor ITS Prof Priyo Suprobo MS PhD, hasil dari simposium akan diberikan kepada pemerintah. "Kita harus ikut bertanggung jawab terhadap penanganan lumpur itu, apalagi ITS sudah terlibat memberikan saran dan solusi teknis sejak juni 2006," katanya.

Dalam simposium itu, Ir Djaja Laksana selaku Ketua Tim Penanganan Lumpur LPPM-ITS mengatakan proses penanganan lumpur hingga saat ini masih berputar pada proses ganti rugi lahan yang terdampak, sedangkan relokasi dan penghentian lumpur masih belum ditangani lebih lanjut.(Ant/OL-2)